Arsip untuk ‘Kisah sengsara Yesus’ Kategori

Kisah sengsara 7

Meditasi V
Yesus Pergi ke Yerusalem

 

051fa6a0

Pagi hari, sementara para rasul sibuk mempersiapkan Paskah di Yerusalem, Yesus, yang tetap tinggal di Betania, menyampaikan salam kasih perpisahan kepada para perempuan kudus, Lazarus dan BundaNya, serta menyampaikan pesan-pesan terakhir kepada mereka. Aku melihat Tuhan kita berbicara secara pribadi kepada BundaNya. Di antara hal-hal lainnya, Ia mengatakan kepada BundaNya bahwa Ia telah mengutus Petrus, rasul iman, dan Yohanes, rasul kasih, untuk mempersiapkan Paskah di Yerusalem. Mengenai Magdalena, yang kesedihannya sungguh luar biasa, Ia mengatakan bahwa kasihnya memang sangat besar, namun dalam tingkat tertentu masih manusiawi, dan bahwa dalam peristiwa ini duka mengakibatkannya bagaikan seorang yang kehilangan akal. Ia juga berbicara mengenai persekongkolan Yudas, dan Santa Perawan berdoa dengan sungguh untuk sang pengkhianat. Yudas, lagi, meninggalkan Betania menuju Yerusalem, dengan dalih membayar hutang-hutang yang belum terlunaskan. Ia menghabiskan sepanjang hari dengan bergegas kian kemari, dari satu Farisi ke yang lainnya, mematangkan rancangan-rancangan akhir bersama mereka. Kepadanya ditunjukkan para prajurit yang dipersiapkan untuk menangkap pribadi Juruselamat Ilahi kita, dan ia menjadwalkan segala perjalanannya dari sana ke sini agar dapat menjelaskan kepergiannya. Aku melihat segala rancangan dan pikirannya yang jahat. Pada dasarnya, Yudas seorang yang penuh semangat dan sedia menolong, tetapi, sifat-sifat baik ini terhimpit oleh ketamakan, ambisi, dan dengki, nafsu-nafsu jahat yang tak pernah ia kendalikan. Apabila Tuhan kita tidak ada, ia bahkan melakukan mukjizat-mukjizat dan menyembuhkan mereka yang sakit.     

 

Pada waktu Tuhan kita memaklumkan kepada BundaNya apa yang akan terjadi, BundaNya mohon dengan sangat, dengan kata-kata yang amat menyentuh hati, untuk memperkenankannya mati bersama-Nya. Tetapi, Yesus mendorong Santa Perawan untuk menunjukkan ketegaran hati dalam dukacita lebih daripada para perempuan lainnya; mengatakan bahwa Ia akan bangkit kembali, dan menyebutkan nama tempat di mana Ia akan menampakkan diri kepadanya. Santa Perawan tidak banyak mencucurkan airmata, namun demikian dukacitanya tak terlukiskan, ada sesuatu yang sangat memilukan dalam tatapan matanya. Tuhan Ilahi kita menyampaikan terima kasih, sebagai seorang Putra yang terkasih, atas segala kasih sayang BundaNya kepada DiriNya, dan Ia mendekapnya erat dekat hati-Nya. Yesus juga mengatakan kepada BundaNya bahwa Ia akan mengadakan Perjamuan Malam Terakhir bersamanya, dalam roh, dan menyebutkan jam bilamana BundaNya akan menerima Tubuh dan DarahNya yang Mahasuci. Lalu sekali lagi Ia, dengan kata-kata yang menrenyuhkan hati, mengucapkan selamat tinggal kepada semuanya, dan menyampaikan kepada mereka masing-masing nasehat yang berbeda.

 

Kira-kira pukul duabelas siang, Yesus bersama sembilan rasul-Nya pergi dari Betania ke Yerusalem, dengan disertai pula oleh tujuh murid, yang, terkecuali Nataniel dan Silas, datang dari Yerusalem dan daerah sekitarnya. Di antara mereka adalah Yohanes, Markus, dan putera janda miskin yang pada hari Kamis sebelumnya mempersembahkan dua pesernya di Bait Allah, sementara Yesus berkhotbah di sana. Yesus mengajak serta putera janda itu dalam rombongan-Nya beberapa hari sebelumnya. Para perempuan kudus berangkat kemudian.

 

Yesus dan rombongan-Nya berjalan berkeliling Bukit Zaitun sekitar Lembah Yosafat, dan bahkan hingga ke Bukit Kalvari. Sepanjang perjalanan panjang itu, tak hentinya Ia menyampaikan pesan-pesan kepada mereka. Ia mengatakan kepada para rasul, di antara hal-hal lain, bahwa hingga saat itu Ia telah memberikan kepada mereka roti-Nya dan anggur-Nya, tetapi pada hari ini Ia akan memberikan kepada mereka Tubuh-Nya dan Darah-Nya, DiriNya Sendiri seutuhnya – segala yang ada pada-Nya dan segenap DiriNya. Ekspresi wajah Tuhan kita begitu menyentuh hati saat Ia mengucapkannya, hingga seolah segenap jiwa-Nya meluncur keluar dari bibir-Nya; tampaknya Ia merana dalam kasih dan kerinduan hingga saatnya Ia memberikan DiriNya kepada manusia. Para murid tidak paham akan apa yang Ia katakan; mereka beranggapan bahwa Ia sedang berbicara tentang anak domba Paskah. Tak ada kata-kata yang dapat cukup menggambarkan kasih dan penyerahan diri yang diungkapkan Tuhan kita dalam pesan-pesan-Nya yang terakhir di Betania, dalam perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

 

Ketujuh murid yang telah mengikuti Tuhan kita ke Yerusalem tidak terus menyertai-Nya, melainkan mereka membawa jubah-jubah untuk keperluan upacara Paskah ke ruang perjamuan, dan lalu kembali ke rumah Maria – ibunda Markus. Ketika Petrus dan Yohanes tiba di ruang perjamuan dengan piala, segala jubah perlengkapan upacara telah ada di ruang depan, di mana para murid dan teman-teman mereka menempatkannya. Mereka juga telah menggantungkan tirai-tirai pada tembok, membersihkan lubang-lubang yang tinggi di sisi-sisinya, serta menempatkan tiga buah lentera. Petrus dan Yohanes lalu pergi ke Lembah Yosafat, memanggil Tuhan kita beserta para rasul yang lain. Para murid dan sahabat yang juga hendak merayakan Paskah di ruang perjamuan, datang sesudahnya.

“diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”

Kisah sengsara 5

Meditasi III
Persiapan Perjamuan Anak
Domba Paskah

 

Ketika para murid telah selesai berbicara dengan Heli dari Hebron, Heli pulang ke rumah lewat lapangan, sementara mereka berbelok ke kanan dan bergegas menuruni sisi utara bukit, melintasi Sion. Lalu, mereka menyeberangi sebuah jembatan dan menyusuri suatu jalanan yang penuh semak duri, tiba di seberang ngarai yang terletak di depan Bait Allah, dan di sisi deretan rumah yang ada di selatan bangunan. Di sana berdirilah rumah Simeon tua, yang wafat di Bait Allah setelah Kanak-kanak Yesus dipersembahkan di sana; putera-putera Simeon, yang sebagian di antaranya secara sembunyi-sembunyi menjadi murid Yesus, tinggal di sana. Para rasul berbicara kepada seorang dari mereka: seorang lelaki berperawakan tinggi dan berkulit gelap, yang memegang jabatan di Bait Allah. Bersamanya, para rasul menuju sisi timur Bait Suci, melalui wilayah Ophel yang dilalui Yesus saat Ia masuk ke Yerusalem pada hari Minggu Palma, lalu menuju pasar hewan yang ada di kota, di sebelah utara Bait Allah. Di sebelah selatan pasar, aku melihat kandang-kandang kecil di mana anak-anak domba yang elok sedang bermain-main. Di sinilah anak-anak domba Paskah dibeli. Aku melihat putera Simeon masuk ke dalam salah satu kandang; anak-anak domba segera berloncatan sekelilingnya seolah mereka mengenalnya. Ia memilih empat ekor dari antara mereka, yang dibawa ke ruang perjamuan. Siang itu, aku melihatnya di ruang perjamuan, sibuk mempersiapkan anak domba Paskah.

 

Aku melihat Petrus dan Yohanes pergi ke beberapa tempat di kota dan memesan berbagai macam barang. Aku melihat mereka juga berdiri di depan pintu sebuah rumah yang terletak di sebelah utara Bukit Kalvari, di mana para murid Yesus biasa menumpang, rumah milik Serafia (yang kelak dikenal sebagai Veronica). Petrus dan Yohanes mengutus beberapa murid dari sana ke ruang perjamuan, menyampaikan beberapa arahan tugas kepada mereka, yang telah terlupakan olehku.

 

Mereka juga masuk ke dalam rumah Serafia, di mana mereka harus mempersiapkan beberapa hal. Suami Serafia, yang adalah seorang anggota sidang, biasanya tidak berada di tempat, sibuk dengan usahanya; tetapi walau ia di rumah, Serafia jarang bertemu dengannya. Serafia adalah seorang perempuan yang kurang lebih sebaya dengan Santa Perawan; telah lama ia berhubungan baik dengan Keluarga Kudus; pada waktu Kanak-kanak Yesus tinggal tiga hari lamanya di Yerusalem setelah perayaan, dialah yang menyediakan makanan untuk-Nya.

 

Dari sana, di antara berbagai barang lain, kedua rasul mengambil piala yang nantinya dipergunakan Tuhan kita dalam penetapan Ekaristi Kudus.

“diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”

Kisah sengsara 4

Meditasi II
Ruang Perjamuan

 

Di sebelah selatan Bukit Sion, tak jauh dari reruntuhan Benteng Daud dan pasar yang diadakan di jalan naik menuju benteng, ke arah timur, berdiri sebuah bangunan kuno yang kokoh, di antara deretan pohon yang lebat, di tengah suatu halaman yang luas, yang dikelilingi tembok-tembok yang tebal. Di sebelah kanan dan kiri pintu masuknya, terlihat bangunan-bangunan lain menempel pada temboknya, teristimewa di sebelah kanan, di mana berdiri tempat tinggal major-domo, dan di dekatnya, rumah di mana Santa Perawan dan para perempuan kudus menghabiskan sebagian besar waktu mereka setelah wafat Yesus. Ruang perjamuan, yang dulunya lebih besar, pada mulanya ditinggali oleh para kapten Daud yang gagah berani, yang belajar mempergunakan perangkat senjata di sana.

 

Sebelum Bait Allah dibangun, Tabut Perjanjian disimpan di sana untuk jangka waktu yang sangat lama, bekas-bekasnya masih dapat ditemukan di suatu ruang bawah tanah. Aku juga melihat Nabi Maleakhi bersembunyi di bawah atap yang sama ini: di sana ia menulis nubuat-nubuatnya mengenai Sakramen Mahakudus dan Kurban Perjanjian Baru. Salomo menaruh hormat terharap rumah ini, dan melangsungkan di dalamnya tindakan-tindakan simbolis yang mengandung perlambang, yang telah terlupakan olehku. Pada waktu sebagian besar Yerusalem dihancurkan oleh bangsa Babilon, rumah ini tidak ikut dimusnahkan. Aku melihat banyak hal lain mengenai rumah ini, tetapi aku hanya ingat apa yang sekarang aku sampaikan.

 

Bangunan ini dalam keadaan bobrok dan terbengkalai saat jatuh ke tangan Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea, yang kemudian menata bangunan utama dengan sangat serasi, dan menjadikannya suatu ruang perjamuan bagi orang-orang asing yang datang ke Yerusalem dengan tujuan untuk merayakan Paskah. Demikianlah Tuhan kita mempergunakan ruangan ini tahun sebelumnya. Di samping itu, rumah dan bangunan-bangunan sekitarnya berfungsi sebagai gudang untuk monumen dan batu-batu lainnya, dan sebagai bengkel bagi para pekerja; sebab Yusuf dari Arimatea memiliki tambang-tambang berharga di negeri asalnya, dari mana ia mendatangkan batu-batu besar agar para pekerjanya dapat membentuknya, dalam pengawasannya langsung, menjadi batu-batu makam, hiasan rumah, juga pilar-pilar untuk dijual. Nikodemus bekerjasama dengan Yusuf dari Arimatea dalam usaha ini; ia sendiri biasa menghabiskan banyak waktu senggangnya dengan memahat. Ia bekerja dalam suatu ruangan, atau suatu apartemen bawah tanah, terkecuali pada hari-hari perayaan; pekerjaan inilah yang membuatnya mengenal Yusuf dari Arimatea; mereka kemudian bersahabat dan seringkali bekerjasama dalam berbagai transaksi dagang.

 

Pagi ini, sementara Petrus dan Yohanes sedang berbcakap-cakap dengan orang yang telah menyewa ruang perjamuan, aku melihat Nikodemus berada dalam bangunan di sebelah kiri halaman, di mana banyak sekali bebatuan ditata sepanjang lorong menuju ke ruang perjamuan. Seminggu sebelumnya, aku melihat beberapa orang sibuk menempatkan bebatuan di satu sisi, membersihkan halaman dan mempersiapkan ruang perjamuan untuk perayaan Paskah; bahkan tampak olehku sebagian dari para murid Tuhan kita ada di antara mereka, mungkin Aram dan Theme, saudara-saudara sepupu Yusuf dari Arimatea.

 

Ruang perjamuan, begitulah disebut, terletak hampir di tengah halaman; panjangnya lebih dari lebarnya; dikelilingi suatu barisan pilar pendek, dan jika ruang di antara pilar-pilar itu telah dibersihkan, akan membentuk suatu ruang dalam besar tersendiri, sebab seluruh bangunan besar itu terbuka, hanya biasanya, terkecuali pada kesempatan-kesempatan khusus, lorong-lorong ini ditutup. Ruangan mendapatkan cahaya dari lobang-lobang di atas tembok. Di depan, pertama-tama terdapat sebuah ruang depan dengan tiga pintu masuk, sesudahnya ruang dalam yang besar di mana beberapa lentera digantungkan dari platform; tembok-tomboknya sebagian ke atas dihias dalam rangka perayaan dengan tikar atau permadani dinding yang indah, sebuah lobang dibuat di atap, dilapisi dengan kain kasa biru transparan.

 

Bagian belakang ruangan ini dipisahkan dari bagian lainnya dengan sebuah tirai, juga dari kain kasa biru transparan. Pembagian ruang perjamuan menjadi tiga bagian menjadikannya serupa dengan Bait Allah – pelataran luar, Tempat Kudus, dan Tempat Yang Mahakudus dari Yang Kudus. Di bagian akhir pembagian ini, di kedua sisinya, ditempatkan pakaian dan segala keperluan lain yang diperlukan untuk perayaan. Di tengah-tengahnya terdapat semacam altar. Suatu meja batu dengan tiga anak tangga, berbentuk empat persegi panjang, muncul dari tembok: pastilah merupakan bagian atas tungku yang dipergunakan untuk memanggang anak domba Paskah, sebab hari ini anak-anak tangga itu cukup panas sepanjang perjamuan. Tak dapat aku menggambarkan secara terperinci semuanya yang ada dalam ruangan ini, tetapi segala macam persiapan dilakukan di sana untuk Perjamuan Malam Paskah. Di atas perapian atau altar ini, terdapat semacam ceruk di dinding, di depannya aku melihat gambar anak domba Paskah, dengan pisau tertancap di lehernya, dan darah tampak jatuh tetes demi tetes ke atas altar; tetapi aku tak dapat mengingat dengan jelas bagaimana hal itu dilakukan. Dalam sebuah ceruk di dinding terdapat tiga lemari dengan berbagai warna, bentuknya serupa tabernakel kita, untuk membuka atau menutup. Sejumlah bejana yang dipergunakan dalam perayaan Paskah disimpan di sana; sesudahnya, Sakramen Mahakudus yang disimpan di dalamnya.

 

Di ruangan-ruangan samping dari ruang perjamuan, terdapat beberapa bantalan, di mana gulungan seprei yang tebal ditempatkan; bantalan panjang ini dapat pula dipergunakan untuk tidur. Terdapat gudang-gudang bawah tanah yang luas di bawah seluruh bangunan ini. Tabut Perjanjian dulunya disimpan tepat di bawah tempat di mana perapian kemudian dibangun di atasnya. Lima saluran pembuangan, di bawah rumah, berfungsi untuk mengalirkan kotoran ke lereng bukit, di mana rumah didirikan. Sebelumnya aku melihat Yesus berkhotbah dan melakukan mukjizat-mukjizat penyembuhan di sana; para murid seringkali bermalam di ruangan-ruangan samping.

“diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”

Kisah sengsara 3

Meditasi I
Persiapan Paskah

 

Kamis Putih, 13 Nisan (29 Maret)

 

Kemarin sore merupakan perjamuan besar terakhir Tuhan kita dan para murid-Nya di depan publik; perjamuan berlangsung di rumah Simon si Kusta, di Betania; Maria Magdalena untuk terakhir kalinya mengurapi kaki Yesus dengan minyak berharga. Yudas sangat mendongkol karena peristiwa ini dan segera bergegas menuju Yerusalem lagi untuk bersekongkol dengan para imam besar untuk menyerahkan Yesus ke dalam tangan mereka. Setelah perjamuan, Yesus kembali ke rumah Lazarus, sementara sebagian dari para Rasul pergi ke penginapan yang terletak di luar Betania. Malam itu, Nikodemus datang lagi ke rumah Lazarus dan berbincang-bincang lama dengan Tuhan kita; sebelum matahari menyingsing ia kembali ke Yerusalem dengan disertai Lazarus sepanjang separuh perjalanan.

 

Para murid telah bertanya kepada Yesus di manakah Ia hendak merayakan Paskah. Hari ini, sebelum fajar, Tuhan kita memanggil Petrus, Yakobus dan Yohanes dan berbicara beberapa waktu lamanya dengan mereka mengenai segala sesuatu yang harus mereka persiapkan dan pesan di Yerusalem. Yesus mengatakan bahwa saat mereka mendaki Bukit Sion, mereka akan menjumpai seorang laki-laki yang membawa sebuah tempayan air. Mereka kenal baik dengan orang ini, sebab pada perjamuan Paskah terakhir di Betania, dialah yang mempersiapkan perjamuan bagi Yesus, itulah sebabnya mengapa St Matius menyebutnya: si Anu. Hendaknya mereka mengikuti dia ke rumah dan mengatakan kepadanya: “Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku” (Mat 26:18). Maka, kepada mereka akan ditunjukkan ruang perjamuan, dan mereka harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.

 

Aku melihat Petrus dan Yohanes naik ke Yerusalem, menyusuri ngarai sempit yang curam, menuju selatan Bait Allah, ke arah sisi utara Sion. Di sisi selatan bukit di mana Bait Allah berdiri, terdapat beberapa deretan rumah; mereka berjalan di seberang rumah-rumah ini, mengikuti aliran air yang deras yang melintas di antara deretan rumah dan tempat mereka berada. Sesampai di puncak Bukit Sion, yang lebih tinggi dari bukit Bait Suci, mereka mengarahkan langkah kaki menuju selatan, dan, tepat pada permulaan suatu tanjakan kecil, bertemu dengan orang yang dimaksud oleh Guru mereka; mereka mengikutinya dan mengatakan kepadanya seperti yang diperintahkan Yesus. Laki-laki ini sungguh bergirang hati mendengar perkataan mereka, dan menjawab bahwa suatu perjamuan telah diminta agar dipersiapkan di rumahnya (mungkin oleh Nikodemus), tetapi ia tidak tahu untuk siapa, karenanya ia senang mengetahui bahwa perjamuan tersebut diperuntukkan bagi Yesus. Nama orang ini adalah Heli; ia adalah saudara ipar Zakharia dari Hebron, di rumahnyalah Yesus pada tahun sebelumnya memaklumkan wafat St Yohanes Pembaptis. Heli hanya mempunyai seorang putera, yang adalah seorang Lewi dan sahabat St Lukas sebelum St Lukas dipanggil Tuhan kita; di samping itu ia mempunyai lima orang puteri yang semuanya belum menikah. Bersama para pembantunya, setiap tahun Heli pergi untuk merayakan Paskah; ia menyewa sebuah ruangan dan mempersiapkan Paskah bagi orang-orang yang tidak mempunyai teman tempat menumpang di kota. Tahun ini, ia menyewa sebuah ruang perjamuan milik Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea. Ia menunjukkan kepada kedua rasul itu tempat dan tata ruang perjamuan.

“diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”

Kisah sengsara 2

Pengantar kepada Meditasi

 

Siapa pun yang mencoba membandingkan meditasi berikut dengan kisah singkat Perjamuan Malam Terakhir seperti yang tercatat dalam Injil akan mendapati sedikit perbedaan di antara keduanya. Suatu penjelasan akan diberikan mengenai hal ini, walau tak akan pernah dapat cukup menanamkan kesan kepada pembaca bahwa tulisan-tulisan berikut sama sekali tak bermaksud menambah barang satu iota pun pada Kitab Suci seperti yang telah ditafsirkan oleh Gereja.

 

Sr Emmerick melihat peristiwa-peristiwa Perjamuan Malam Terakhir berlangsung dengan ururt-urutan sebagai berikut: – anak domba Paskah dikurbankan dan dipersiapkan di ruang perjamuan; Tuhan kita menyampaikan pengajaran dalam peristiwa tersebut – mereka yang hadir mengenakan pakaian bagai seorang yang hendak bepergian, dan sementara berdiri, makan daging anak domba dan hidangan lain seperti yang ditentukan hukum – cawan anggur dua kali disajikan kepada Tuhan kita, tetapi Ia tidak minum pada hidangan yang kedua; Yesus membagikan anggur kepada para rasul-Nya dengan berkata: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini, dst. Lalu mereka duduk; Yesus berbicara mengenai si pengkhianat; Petrus khawatir jangan-jangan dialah itu; Yudas menerima dari Tuhan sepotong roti yang dicelupkan, yang merupakan tanda bahwa dialah itu; persiapan dilakukan untuk pembasuhan kaki; Petrus berusaha mencegah kakinya dibasuh; lalu penetapan Ekaristi Kudus: Yudas menyambut komuni dan sesudahnya ia meninggalkan rumah; minyak-minyak dikuduskan, dan intruksi-instruksi mengenainya disampaikan; Petrus dan para rasul yang lain menerima tahbisan; Tuhan kita menyampaikan pengajaran-Nya yang terakhir; Petrus memprotes bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Guru-nya; dan lalu perjamuan malam berakhir. Dengan urut-urutan seperti di atas, pada awalnya, seolah-olah tulisan berikut tidak sesuai dengan Injil St Matius (26:29), dan St Markus (14:25), di mana kata-kata: Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini, dst, diucapkan sesudah konsekrasi; tetapi dalam Injil St Lukas, kata-kata tersebut diucapkan sebelum konsekrasi. Sebaliknya, dalam tulisan ini, segala sesuatu mengenai Yudas sang pengkhianat, sesuai dengan Injil St Matius dan St Markus, yakni terjadi sebelum konsekrasi; sementara dalam Injil St Lukas terjadi sesudahnya. St Yohanes, yang tidak menceriterakan kisah penetapan Ekaristi Kudus, membuat kita mengerti bahwa Yudas segera pergi sesudah Yesus memberinya roti (13:30); tetapi kemungkinan yang terjadi, seperti dalam tulisan-tulisan para Penginjil lainnya, Yudas menyambut Komuni Kudus dalam dua rupa; beberapa Bapa Gereja – St Agustinus, St Gregorius Agung, dan St Leo Agung – pula tradisi Gereja Katolik, menyatakan dengan jelas bahwa demikianlah yang terjadi. Di samping itu, jika urutan peristiwa yang disampaikan St Yohanes kita artikan secara harafiah, maka ia akan bertentangan dengan, bukan saja St Matius dan St Markus, melainkan juga dirinya sendiri, sebab dalam bab 13:2 hingga bab 13:11, dikisahkan bahwa Yudas juga dibasuh kakinya. Pembasuhan kaki terjadi sesudah makan anak domba Paskah, dan penting dicatat bahwa saat makan itulah Yesus memberikan roti kepada sang pengkhianat. Nyata di sini bahwa para Penginjil, seperti pada beberapa bagian tulisan mereka, mencurahkan perhatian mereka pada kisah suci sebagai suatu kesatuan, dan tidak merasa wajib menceritakan setiap detail peristiwa dengan urutan yang tepat sama; dengan demikian menjelaskan sepenuhnya apa yang tampaknya saling bertentangan dalam kisah-kisah Injil. Pembaca yang bijaksana akan memandang kisah-kisah berikut sebagai kisah sederhana dengan kesesuaian yang wajar dengan Injil, daripada sebagai kisah sejarah dengan mempersoalkan hal-hal kecil yang tidak penting dengan yang ada dalam Kitab Suci.

 

“diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”

Kisah sengsara 1

B. Anna Katharina Emmerick

 

1a73fa380
Anna Katharina Emmerick dilahirkan pada tanggal 8 September 1774 di Flamsche, wilayah Keuskupan Münster, Westphalia, Jerman.

 

Anna Katharina berasal dari keluarga petani miskin. Kesehatannya kurang baik semenjak ia masih kecil. Sejak kanak-kanak, Anna Katharina telah mendapat anugerah penglihatan dan nubuat. Penglihatan dan nubuat ini begitu sering, sehingga Anna Katharina kecil beranggapan bahwa semua anak dapat melihat Yesus dan Bunda Maria, para kudus, dan jiwa-jiwa di api penyucian. Ia dapat mendiagnosa penyakit dan menyarankan pengobatannya, pula ia dapat melihat dosa-dosa orang.

 

Anna Katharina membantu bekerja di pertanian keluarganya. Ia juga bekerja sebagai penjahit dan pembantu rumah tangga seorang organis miskin di mana ia belajar alat musik tersebut. Ketika usianya duapuluh delapan tahun (1802) ia masuk biara Agustinian di Agnetenberg, Dülmen. Dalam biara ini, ia puas diperlakukan sebagai yang terendah dalam biara.

 

Para biarawati lainnya amat heran dan merasa terganggu oleh kemampuannya yang aneh, kesehatannya yang buruk dan ekstasi-ekstasi yang dialaminya baik di gereja, di kamar tidur, maupun di tempat kerjanya. Sebab itu, ia diperlakukan dengan sikap antipati. Ketika biara ditutup atas instruksi pemerintah pada tahun 1811, Anna Katharina pindah ke rumah seorang janda miskin. Kesehatan Anna Katharina semakin memburuk, dan akhirnya, bukannya menjadi pembantu, ia malahan menjadi pasien.

 

Pada tanggal 29 Desember 1811, pukul tiga sore, Yesus yang tersalib menampakkan diri kepadanya dengan luka-luka-Nya memancarkan sinar cahaya. Sinar itu menembusi kedua tangan, kaki dan lambungnya bagaikan panah. Stigmata di kepalanya, yang dianugerahkan kepadanya saat usianya 24 tahun, juga mulai meneteskan darah hingga ia harus membalut kepalanya dengan perban. Pada tahun 1812, tanda salib muncul di dadanya. Karunia stigmata yang diterimanya disertai juga dengan karunia inedia, yaitu hidup tanpa makanan, hanya dari Komuni Kudus saja, sepanjang hidupnya. Anna Katharina berusaha menyembunyikan luka-lukanya, tetapi kabar mengenai hal itu akhirnya tersebar juga, dan Bapa Vikaris Jenderal menetapkan dilakukannya suatu penelitian yang panjang serta terperinci.

 

Bapa Vikjen bersama tiga orang ahli medis melakukan penelitian dengan cermat dan seksama hingga mereka yakin akan kekudusan “Beguine yang saleh,” demikian ia disebut, dan akan keaslian stigmata. Pada tahun 1819, pemerintah melakukan penyelidikan mereka sendiri. Dalam keadaan sakit hampir mati, Anna Katharina dipenjarakan, diancam dan ada di bawah pengawasan ketat 24 jam sehari.

 

Setelah tiga minggu berlalu, komisi tersebut pada akhirnya menyerah. Mereka pergi tanpa menemukan suatu pun yang mencurigakan, tak dapat membujuk Anna Katharina untuk mengubah kesaksiannya, dan gagal mempublikasikan penemuan mereka. Ketika dipaksa melapor, mereka menyatakan bahwa fenomena tersebut palsu, tetapi mereka tidak dapat menjelaskan mengapa mereka berkesimpulan demikian, atau mengapa mereka tidak mempublikasikan penemuan-penemuan mereka.

 

Ketika seorang penulis bernama Clemens Brentano mengunjunginya, Anna Katharina mengatakan bahwa ia telah melihatnya dalam suatu penglihatan dan bahwa Clemens akan menuliskan catatan tentang penglihatan-penglihatan serta nubuat-nubuat yang diterimanya. Demikianlah, setiap hari selama lima tahun, Clemens mencatat pesan-pesan, serta menerjemahkan catatan tersebut dari dialek Westphalian, dialek Anna Katharina, ke bahasa Jerman. Setiap kali, ia meminta Anna Katharina untuk memeriksa serta memberikan persetujuan atas tulisannya.

 

Sepanjang musim panas tahun 1823, kesehatan Anna Katharina semakin memburuk. Seperti biasa, ia mempersatukan segala penderitaannya dengan penderitaan Yesus, serta mempersembahkannya bagi keselamatan segenap umat manusia. Anna Katharina wafat pada tanggal 9 Februari 1824.

 

Oleh karena tersiar kabar angin bahwa jenazahnya dicuri orang, maka kuburnya dibuka kembali enam minggu kemudian dan didapati tubuhnya masih dalam keadaan segar, tanpa tanda-tanda kerusakan. Jenazah Anna Katharina Emmerick dipindahkan ke Gereja Salib Suci di Dülmen, Jerman pada tanggal 15 Februari 1975.

 

Pada tahun 1833, tulisan-tulisan yang dibuat oleh Clemens Brentano dipublikasikan sebagai “The Dolorous Passion of Our Lord Jesus Christ according to the Meditations of Anne Catherine Emmerich” (Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus dari Meditasi B. Anna Katharina Emmerick). Menyusul pada tahun 1852, “The Life of The Blessed Virgin Mary” dan tiga jilid “Life of Our Lord” dari tahun 1858 hingga 1880 (Kisah Hidup dan Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus dan BundaNya serta Misteri-misteri Perjanjian Lama). Sementara banyak karya-karya wahyu yang demikian berhubungan erat dengan sisi kerohanian dan gagasan penerima wahyu, ketiga tulisan tersebut sungguh merupakan karangan yang terus terang dan jelas dengan rincian gambaran akan peristiwa-peristiwa, dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Cukup banyak bagian dari tulisan Anna Katharina yang menjadi dasar pembuatan film “The Passion of the Christ” oleh Mel Gibson.

 

Vatican sendiri menganjurkan umat beriman membaca tulisan-tulisan Clemens Brentano berdasarkan kisah penglihatan biarawati Agustinian ini, sebagaimana dinyatakan dalam biografi Anna Katharina Emmerick yang dimuat secara online di situs resmi Vatican, “Kata-katanya, yang telah menjangkau begitu banyak orang yang tak terhitung banyaknya dalam berbagai macam bahasa, yang dituturkannya dari kamarnya yang sederhana di Dülmen melalui tulisan-tulisan Clemens Brentano, sungguh merupakan suatu pemakluman luar biasa Injil demi keselamatan hingga saat ini.”

 

Pada tanggal 24 April 2001 Anna Katharina Emmerick dimaklumkan sebagai Venerabilis (= Yang Pantas Dihormati) dan pada tanggal 3 Oktober 2004 dinyatakan sebagai Beata (= Yang Berbahagia) oleh Paus Yohanes Paulus II. Pestanya dirayakan pada tanggal 9 Februari.

 

“B. Anna Katharina Emmerick mengisahkan “dukacita sengsara Tuhan kita Yesus Kristus” dan mengamalkannya dalam tubuhnya. Kenyataan mengenai puteri petani miskin, yang dengan gigih berusaha dekat dengan Tuhan dan kemudian terkenal sebagai “Mistikus dari Tanah  Münster” ini sungguh merupakan karya rahmat ilahi.”
“diterjemahkan oleh YESAYA: http://www.indocell.net/yesaya”
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.